|
Imlek dirayakan masyarakat di Kelenteng Hok Tek Bio, di Jalan Letnan Sukarna Ciampea – Kabupaten Bogor penuh kesederhanaan. Tradisi beribadah warga keturunan diwilayah ini, sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu.
Secara tradisi juga, penyambutan Imlek diisi dengan aktivitas mulai mendandani rumah hingga umat yang merayakannya.
Bangunan Kelenteng ini sudah berdiri sejak abad ke-18. Makanya didalam Kelenteng, terdapat banyak peninggalan benda bernilai sejarah tinggi seperti, benda-benda suci raja Tionghoa yang usianya diperkirakan mencapai ratusan tahun.
Suryadi 42, pengelola kelenteng menuturkan, daya tarik kelenteng yang dijaganya adalah benda bersejarah. “Mungkin karena bersejarah, makanya setiap hari raya imlek, kelenteng ini selalu ramai dikunjungi warga,” kata Suryadi.
Bangunan yang berdiri di lahan seluas 800 meter persegi yang lokasinya tepat berada di kawasan Pasar Ciampea lama itu ini di dalamnya terdapat sebelas altar yang biasa digunakan masyarakat Tiongha untuk bersembayang. Setiap altar memiliki makna dan fungsi yang berbeda Seperti altar tuan rumah Kelenteng Hok Tek
Bio Ciampea, yakni Hok Tek Tjeng Sien (Dewa Bumi) yang berada di bagian tengah. Kongco Hok Tek Ceng Sien yang diyakini sebagai pelindung orang miskin dan konon semua doa akan terkabul.
Sedangkan bagi para petani, biasanya bersembahyang di altar Hok Tek Ceng Sien. Menurut kepercayaan, bisa membuat panen dan ternak berkembang dengan baik.
Di sebelah kiri, terdapat tempat sembahyang kepada Kongco Kwan Kong. Patung seorang jenderal terkenal yang hidup pada zaman Tiga Negara (Sam Kok, 165-219 M).
Ia dianggap sebagai Dewata Pelindung Kuil dan bangunan-bangunan Suci. Pengikut Tao menjunjungnya sebagai Malaikat Pelindung Peperangan.
Selain itu, Patung Dewi Kwan Im atau Kwan She Im Phosat yang dipercaya sebagai penjelmaan Buddha Welas Asih di Asia Timur. Dan terakhir, tempat pemujaan Eyang Raden Suryakencana yang berada di bagian belakang Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea.
Eyang Raden Suryakancana adalah karuhun orang Sunda yang diyakini masyarakat Sunda bersemayam di Gunung Gede.
“Mereka berdoa memohon pengampunan. Berterima kasih kepada Thien (Tuhan), leluhur, orangtua dan orang-orang yang dituakan. Dan mohon pertolongan kepada Tuhan agar diberi kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan,”papar pria yang sudah sepuluh tahun mengabdi di Kelenteng ini. (yopi/dms)
|