|
Ketua Umum Pengurus Pusat PMI, Jusuf Kala (JK) meresmikan Gedung G Rumah Sakit Umum (RSU) PMI Bogor. Gedung baru yang terdiri dari 3 lantai tersebut kemudian dinamakan Gedung Gardena oleh JK
Walikota Bogor, Diani Budiarto, ikut menyaksikan prosesi peresmian gedung yang berlokasi di Jalan Rumah Sakit I, pada Selasa (21/2/2012). Hadir dalam kesempatan tersebut Direktur RS PMI Bogor, Andi Wisnu Baroto, beserta Ketua Umum Pengurus Cabang PMI Kota Bogor, Edgar Suratman.
“Rumah Sakit dewasa ini merupakan gabungan antara dokter, teknologi, dan hotel. Dokter untuk memberikan pelayanan yang baik pada pasien, teknologi untuk mengikuti perkembangan ilmu, dan fungsi hotel sebagai tempat istirahat,” ungkap kala dalam sambutannya.
Menurutnya, pengelola Rumah Sakit yang tidak mampu menggabungkan ketiga unsur ini akan mengalami ketertinggalan. Oleh karena itu selain lewat pengembangan fisik, RS PMI pun lanjutnya dituntut mampu melakukan pengembangan di bidang keilmuan dan riset.
“Kedokteran adalah ilmu yang perkembangannya pesat sekali. Mencapai 100% dalam 3 tahun,” jelasnya. Kondisi ini lanjut Kala lagi, perlu disikapi agar Rumah Sakit yang kita miliki bisa menjadi andalan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Karena kecenderungan saat ini, masyarakat ekonomi atas lebih memilih untuk berobat ke luar negeri dengan alasan teknologi terdepan yang dimiliki Rumah Sakit di negara tersebut. “Sehingga dengan metode, proses, dan penanganan yang lebih baik, RS PMI dapat tetap pada prinsip pokok melayani masyarakat dengan prinsip kemanusiaan. Tapi dapat mengembangkan diri secara mandiri untuk memenuhi perkembangan teknologi, zaman, dan masyarakat dengan kepemimpinan, manajerial dan keilmuan yang baik,” tegasnya.
Sementara itu Walikota Bogor, Diani Budiarto dalam sambutannya menyampaikan bahwa keberadaan PMI yang terus berkembang telah memberikan kontribusi besar bagi daerah untuk dapat melayani warga terutama warga miskin.

“Kota Bogor tidak memiliki Rumah Sakit Daerah, karena itu PMI selalu menjadi rujukan bagi pemegang Jamkesmas, walaupun sering terjadi kendala terkait jumlahnya yang sangat kecil”ungkap Diani.
Namun diakuinya, bahwa pihak Pemerintah Kota terus mengupayakan regulasi dengan pihak Rumah Sakit agar keberadaan bantuan bagi warga miskin tidak merugikan pihak manapun. “Sudah ada komitmen untuk tidak ada penolakan gakin. Kalaupun (ruang rawat inap) kelas III tidak tersedia, pasien gakin bisa dititip dahulu di kelas II, karena nanti pasti akan dibayar dengan dana stand-by diluar Jamkesmas,” tegasnya.
Sementara untuk peningkatan kapasitas Rumah Sakit sendiri, Diani memberi masukan agar pihak PMI dapat segera menyediakan pelayanan MRI (magnetic resonance imaging) sehingga warga Bogor tidak perlu ke Jakarta untuk melakukan diagnosa ini.
Gedung G milik RS PMI dibangun sejak November 2010 lalu dengan prosesi peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Jusuf Kala didampingi Wakil Walikota Bogor, Achmad Ru’yat. Gedung berlantai 3 ini terdiri dari 17 kamar periksa untuk Poliklinik Reguler dan fasilitas pendukung di lantai 1, delapan bed untuk pelayanan ICU/ICCU – NICU dan 27 mesin Hemodialisa di lantai 2 dan prasarana pendukung pelayanan serta aula serbaguna di lantai 3.
Pembangunannya sempat terkendala oleh kondisi cuaca di Kota Bogor yang memiliki curah hujan tinggi namun diyakinkan aman oleh Direktur RS PMI Bogor, Andi Wisnu Baroto. Hal ini karena menurutnya Gedung Gardena dibangun dengan meperhatikan kaidah konstruksi bangunan bertingkat, alur pelayanan dan sarana evakuasi serta K3.
“Ke depannya PMI akan membangun Gedung F untuk sarana Instalasi Gawat Darurat (IGD), kamar bedah akut dan penunjang diagnostik,” urainya. (dicky/gus)
|