Banner
POLA PENANGANAN KEMISKINAN DI KOTA BOGOR
Rabu, 08 Juni 2005 15:09
POLA PENANGANAN KEMISKINAN DI KOTA BOGOR. Perkembangan yang terjadi di Kota Bogor di sektor Ekonomi ternyata belum berpengaruh secara signifikan pada perbaikan kehidupan sosial masyarakatnya, ketika Kemiskinan masih menjadi beban berat bagi Pemerintah Kota Bogor untuk untuk bisa menuntaskannya. Bahkan, penanganan Kemiskinan merupakan salah satu program prioritas pembenahan Kota Bogor. Jumlah masyarakat miskin di Kota Bogor masih tinggi dengan berbagai implikasi yang ditimbulkannya. Buktinya sampai akhir tahun 2004, jumlah masyarakat miskin di Kota Bogor tercatat 21.914 Kepala Keluarga (KK). Jumlah ini mengalami peningkatan 33,99 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya yakni tahun 2003 yakni berjumlah 17.947 KK. Walikota Bogor H. Diani Budiarto menjelaskan,, bahwa peningkatan jumlah masyarakat miskin terjadi akibat penajaman kriteria keluarga miskin, yang terukur dari sebuah keluarga miskin, terukur dari sebuah keluarga memperoleh makanan, penghasilan, pendidikan, kemampuan berobat dan kepemilikan rumah. Mengenai soal kemiskinan ini Walikota juga pernah menyatakan kekecewaannya atas program kamuplase yang dilakukan Pemkot Bogor. dalam hal kemiskinan, misalnya. data soal jumlah orang miskin di kota ini kurang akurat, karena dari tahun ke tahun, orang miskin selalu disebut berkurang. Padahal indikasinya tidak jelas. hanya karena rumahnya dilantai, suatu KK (Kepala Keluarga) dengan mudah disebut bebas dari kemiskinan. Karena itu Saya akan menginventarisir kembali, berapa sebenarnya jumlah orang miskin di Kota Bogor. saya tidak mau melakukan kebohongan. Apa adanya saja. Kalau jumlahnya 20 persen, akan saya katakan sesuai data yang ada. Begitu juga dengan perkembangannya, jika memang populasi orang miskin terus meningkat. Saya tidak akan menutup-nutupi. â?? tandasnya Sedangkan untuk menentukan kriteria miskin Pemkot Bogor telah menentukan kriteria yakni tidak bisa makan dua kali dalam sehari atau mampu makan protein hewani satu kali dalam seminggu, tidak punya penghasilan tetap minimal Rp 150 ribu per /Kapita/bulan tidak mampu menyekolahkan anak usia sekolah (7-15 tahun), tidak mampu berobat atau ber KB (Keluarga Berencana) ke Puskesmas, dan Rumah berlantai tanah 75 persen dari luas rumah â??â??Satu saja masuk dalam kriteria tersebut dikatagorikan keluarga miskin, â?? kata Diani, Diani menyebutkan, kemiskinan struktural yang terjadi di Kota Bogor pada umumnya di sebabkan orang miskin tidak mampu menjangkau pasar kerja, alokasi APBD untuk penanganan tenaga kerja orang miskin belum optimal, iklim usaha saat ini belum mampu menunjang terhadap penyerapan tenaga kerja masyarakat miskin, kurangnya pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) masyarakat miskin, alokasi danaâ??dana di luar Pemerintah belum mampu dijangkau masyarakat miskin, belum efektifnya pengelolaan ZIS (Zakat, Infak dan Shodakoh) dan krisis ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Untuk itu perlu ada peningkatan belanja penanganan masyarakat miskin. Seberarnya masalah kemiskinan bisa dituntaskan melalui kejamahaan masjid. â?? Kalau umat Islam di Kota Bogor sadar akan membayar zakat, infak dan shodakoh masalah kemiskinan bisa tuntas, â?? jelas Diani. Padahal, menurut Diani, 94 persen penduduk Kota Bogor pemeluk agama Islam , Belum lagi kalau diperhitungkan dengan uang yang disimpan oleh umat Islam di Bank yang harus dikeluarkan zakatnya yang diperkirakan bisa terkumpul dana zakat sebesar Rp 100 juta. Pada beberapa waktu lalu saya telah mengutus pengurus DKM Masjid Raya Bogor ke Surabaya untuk melihat langsung kondisi kejamaahan Masjid Al Akbar dan Masjid Al Falah, tutur Diani. .Yang menarik selama 24 jam (sehari-semalam-red) di masjid Al Falah Surabaya tidak pernah sepi jamaah yang mengisinya dengan berbagai aktivitas syiar Islam. Bahkan, setiap sudut masjid tidak pernah kosong. Dan setiap harinya tidak kurang dari 3000 jamaah memenuhi masjid tersebut. â??Melalui Infak dan Shodakoh yang dikumpulkan dari para jamaahnya setiap bulanya bisa terkumpul Rp 1,5 miliyar.â? paparnya. Sedangkan kalau melihat pengumpulan Infak dan Shodakoh melalui BAZ (Badan Infak dan Shodakoh) Kota Bogor masih sangat memprihatinkan baru hanya terkumpul sebesar Rp 147 juta setahun (iyan)
 
Kota Bogor
Kota Bogor   Talk Show Jakarta Marketing Week: "City Branding"
Kota Bogor   Kota Bogor Meraih Penghargaan IDSA Award
Kota Bogor   Tanya Jawab Walikota dengan Dewan Juri IDSA Award
Lebih Banyak Video

Website SKPD

Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner